Rela Tubuhnya Dipotong Sebanyak 27 Ribu Bagian, Susan Potter : Untuk Kemajuan Ilmu

Susan Potter, wanita berusia 87 tahun asal Texas ini, mengusulkan kepada dokter agar tubuhnya diabadikan untuk mahasiswa kedokteran. Meski dalam perjalanannya ia hidup 15 tahun lagi, dan dalam belasan tahun itu tubuh dan hidupnya didokumentasikan.

Bukan hanya tubuhnya saja yang dibekukan, diiris, dan dibuat versi digital untuk dipelajari, tetapi juga lengkap dengan latar belakang hidupnya.

Potter adalah subjek dari profil yang diterbitkan sebagai bagian dari National Geographic edisi Januari 2019. Profil ini berfokus pada sosok Potter, kepribadiannya dan apa yang mendorong kemaunya. Sang penulis cerita menyebutnya, “mayat yang abadi.” Mengiris tubuh hingga 27.000 keping adalah proyek yang menuntut kerja luar biasa. Potongan-potongan itu, masing-masing akan tampak tiga kali lebih tipis bagi mata manusia. Potongan ini akan dipindai ke dalam komputer, membentuk semacam catatan digital.

Ini merupakan bagian dari Visible Human Project, sebuah upaya untuk membuat mayat digital yang dapat dibedah oleh siswa lewat layar komputer mereka, berulang kali. Tidak seperti proyek sebelumnya, Potter akan direkam dalam video selama proyek ini.

Potter pertama kali datang ke Visible Human Project pada tahun 2000. Potter memiliki catatan medis yang panjang. Ia telah melewati mastektomi (operasi pengangkatan payudara) ganda, melanoma (jenis kanker kulit paling serius), operasi tulang belakang.

Potter meninggal pada tahun 2015, pada usia 87 tahun. Selama periode itu, ia menjadi dekat dengan para peneliti di proyek dan mahasiswa kedokteran yang pada akhirnya akan mempelajari mayat digitalnya. Dibutuhkan mental baja untuk melihat semua proses tahapan ‘mengerikan’ itu. Mereka harus bekerja cepat, Potter selalu membawa kartu untuk memberi tahu.

Siapa pun yang mendapatkan tubuhnya, mereka hanya punya empat jam untuk membuatnya beku agar keawetan organ bisa berfungsi.

Setelah kematiannya akibat pneumonia pada 15 Februari 2015, Potter tetap di dalam freezer selama dua tahun. Lalu dokter mengambil kembali tubuhnya dari rumah sakit tempat dia meninggal, dan memasukkannya ke dalam freezer dengan suhu minus 15 derajat Fahrenheit (minus 26 derajat Celcius). Dan pada akhirnya, datanglah saat yang melelahkan untuk memotong dan mendokumentasikan potongan-potongan tubuhnya.

Perlu diketahui, jika Potter bukanlah orang pertama yang tercatat di perpustakaan Visible Human Project, seperti yang dilaporkan National Geographic. Joseph Paul Jernigan, seorang pria berusia 39 tahun, yang dipilih karena dia meninggal secara tidak wajar, dieksekusi oleh negara bagian Texas. Jasadnya dijadikan bahan percobaan. Pada tahun 1993, tubuh Jernigani dipotong menjadi 2.000 irisan, masing-masing setebal satu milimeter.

Manusia kedua ialah wanita tua berusia 59 tahun, namanya tidak diketahui, dipotong menjadi 5.000 irisan, berukuran 0,33 mm. Sesaat setelah dia meninggal karena penyakit jantung.

Kisah National Geographic ini adalah tentang kisah Potter dan pergolakan batinnya. Di atas keputusasaan akan penyakit yang ia derita, nyatanya membuat ia memikirkan satu hal, apa yang ia bisa berikan untuk kehidupan, saat nyawanya tak lagi berada di sana.